Rembukan IKOPIN dan Aktivis dalam Penataan Lingkungan Jatinangor

Redaksi eRKS FM

 - 

Friday, 11 June 2021 - 14:30 WIB

Rembukan IKOPIN dan Aktivis dalam Penataan Lingkungan Jatinangor

Rembukan IKOPIN dan Aktivis dalam Penataan Lingkungan Jatinangor — 1 tahun yang lalu


Akademisi Kampus IKOPIN, Pengelola Yayasan Ibu Djati dan Gelap Nyawang Nusantara (GNN), membahas penataan lahan kosong untuk dihijaukan guna meminimalisir bencana alam, Jumat (11/6).

Selama ini, Kawasan Jatinangor memang minim sarana fasilitas umum (sasum) dan fasilitas sosial (fasos). Demikian pula dengan Alun-alun dan Masjid Besar di Kecamatan Jatinangor.

Fakta ini disikapi serius oleh Yayasan Ibu Djati dan Gelap Nyawang Nusantara, dengan melakukan diskusi bersama akademisi perguruan tinggi IKOPIN di kampus IKOPIN Jatinangor, dihadiri Camat Jatinangor, Herry Dewantara.

Dalam pertemuan tersbut Ketua Gelap Nyawang Nusantara (GNN) Asep Riyadi mengatakan, untuk mewujudkan keinginan masyarakat Jatinangor, pihaknya siap melakukan terobosan agar kondisi lingkungan tetap terjaga.

“Kami melakukan pertemuan, untuk membahas bagaimana menata lingkungan agar bisa mencegah bencana alam. Caranya, setiap lahan yang kosong di kawasan Jatinangor akan ditanami, namun dengan sistem kerja sama,” ucapnya.

Selain itu, akan dibahas pula bagaimana kondisi lingkungan agar bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umum, supaya masyarakat bisa merasakan manfaatnya.

“Kami memiliki komitmen serta konsen terhadap pelestarian lingkungan, baik pemanfaatan lahan maupun melakukan upaya normalisasi lingkungan. Jika lingkungan bersahabat, otomatis kita akan tenang.Tetapi kalau sebaliknya, maka akan muncul bencana dimana-mana,” katanya.

Wakil Rektor IKOPIN Dandan Irawan mengatakan, pihaknya sudah 39 tahun berkarier di Kecamatan Jatinangor, dan melahirkan 15 ribu alumni.

“Kepemilikan lahan memang awalnya Hak Guna Pakai(HGP) terus Hak Guna Bangunan (HGB) terus tahun kemarin kita tuntas merubah 3 sertifikat seminar yakni sertifikat HGB,” ujarnya.

Dikatakan Warek IKOPIN, acara diskusi hari ini untuk memperjelas perencanaan.

“Karena bagaimanapun, ada sesuatu yang tidak kami ketahui, tetapi sudah dilakukan dengan pertemuan ini. Alhamdulillah sudah tuntas semuanya,”ucapnya.

IKOPIN sangat konsen terhadap pelestarian lingkungan. Total lahan 28 hektare, dibagi 3. Jadi 1,7, dan 20 hektare. Lahan yang ada di belakang kampus dimanfaatkan oleh Ibu Djati seluas 20 hektare, sedangkan 8 hektare digunakan untuk bangunan kuliah kampus IKOPIN.

“Rencana pembangunan ke depan, kami akan mengubah bentuk institut jadi universitas. Prosesnya  sudah hampir 70 persen, kita tinggal menunggu apakah prodi 2 yang diusulkan disepakati atau tidak. Untuk universitas ada beberapa prodi baru, yakni agribisnis, teknologi pangan, dan saint data,” tegasnya.

Warek IKOPIN mengungkapkan prodi agribisnis dan teknologi pangan akan lebih banyak memanfaatkan lahan di belakang.

#jatinangor #lingkungan #sumedang #erksfm #news-erks